Senin, 19 Mei 2014

Motivasi hari ini



Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan
                          


                                                                                                                  
manajemenqolbu.com 

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Q.S Al Insyiraah: 5-6) 

Sebagai siswa disalah satu Pendidikan Kedinasan di Negeri ini, adalah kewajiban untuk menyelesaikan belajar dengan hasil yang memuaskan. Jika kukenang kisah perjalananku masuk di Perguruan Tinggi Kedinasan ini jadi teringat dimana begitu banyak tantangan,hambatan,ujian mental yang dilalui.

Kisah ini dimulai setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Tingkat Atas di Kabupaten Rembang di Jawa Tengah. Waktu itu tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri karena kemampuan ekonomi terbatas, lalu mendaftar di salah satu Pendidikan Militer yang tentunya ada Ikatan dinas, selama pendidikan tidak dikenakan biaya, sehingga tertarik untuk mengikuti tes masuk, kebetulan pula persyaratan administrasi telah sesuai. Tahapan test berikutnya dijalani dan mengalami kegagalan.Tentunya agak kecewa tapi memang mungkin bukan jalan hidupku.

Untuk mengisi aktifitas, selanjutnya merintis wirausaha untuk membantu ekonomi keluarga, dimulai dengan berjualan ayam, dengan cara memasarkan ayam tersebut baik di perkampungan penduduk ataupun pasar tradisional. Dengan menggunakan sepeda motor mulai berkeliling, memang malu juga, karena jika berjumpa dengan teman-teman yang rata-rata melanjutkan pendidikan lagi di perguruan tinggi. Tetapi malu juga tidak menyelesaikan masalah, lalu masa itu dijalani dengan kesabaran dan keikhlasan.
 

Berbagai permasalahan hidup pun mulai dihadapi, dari kekurangan modal, dan sepeda motor kadang-kadang rusak sehingga pemasaran jadi agak terhambat . Akan tetapi, justru belajar dari kejadian demi kejadian bahwa dalam hidup ini untuk mendapatkan nafkah, harus berjuang. Sehingga dalam bekerja sering berjumpa dan berkomunikasi, dengan petani, ataupun buruh. Merekapun sabar dalam menjalani pekerjaannya walaupun harus bekerja keras.
 

Satu tahun waktu telah dijalani, jika melihat teman-teman yang berkuliah kadang-kadang ada perasaan iri juga, tetapi harus sabar dengan kenyataan yang sedang dijalani. Sampai pada suatu saat mendapat informasi dari teman, kebetulan waktu itu bersama mengerjakan Sholat Jumat, bahwa ada pendaftaran Perguruan Tinggi kedinasan. Tidak dikenai biaya pendidikan. Kemudian setelah berdiskusi dengan orang tua, dan mereka menyetujui supaya mengikuti tes tersebut.

Mulailah mengikuti tahapan-tahapan tes. Selain tidak lupa selalu berdoa memohon kepada Allah SWT agar diberi kemudahan, begitu juga orang tua. Salah satu tahapan tes harus ke ibukota propinsi di Jateng yaitu di Semarang, sewaktu akan berangkat dengan kendaraan angkutan , tak terasa air mataku pun berlinang, orang tua, sanak saudara melepas kepergianku, tentunya mereka berharap bisa berhasil.
 

Sesampai di Semarang, mulailah mengikuti tes-tes tersebut dan Ahamdullilah dapat lulus. Tahapan berikutnya harus mengikuti tes terakhir di lokasi tempat Pendidikan di Jatinangor Sumedang, Jawa Barat.

Sewaktu akan berangkat, kembali air mataku berlinang , dalam perjalanan selalu berdoa dan berharap agar dapat lulus sebab jika berhasil tentunya dapat membahagikan orang tua, sanak saudara di kampung. Tes di Jatinangor telah dilalui dan sewaktu pengumuman Alhamdullilah dinyatakan lulus.
 

Kemudian dengan memakai surat kukirim kabar keberhasilanku kepada keluarga.

Tahap awal pendidikan dijalani,sewaktu pengukuhan menjadi mahasiswa Alhamdullilah orang tua, sanak saudara dapat hadir di Jatinangor, air mata kami berlinang bersyukur kepada Allah SWT ternyata dibalik kesulitan akan ada kemudahan jika berikhtiar dan meluruskan niat.
 

Sebentar lagi, kurang lebih 5 bulan lagi pendidikan ini diselesaikan, semoga dapat berjalan dengan baik dan ilmu yang telah diperoleh dapat diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Wallahu'alam. *** (Sandi Muda)
 






Halo Cinta!

'Cinta'... Seringkali ketika kata ini disebut, jiwa manusia pun bergetar, terbuai oleh perasaan deg-deg-an... seakan tersiram oleh keindahan cinta yang berbaur dengan keharuman minyak Yasmine. Orang yang dimabuk cinta seakan tak puas bila tak bermandikan air hujan kemesraan, disiram oleh tangan kasih sayang. Dan ia pun seakan terbang nun jauh diatas sana, menerobos awan yang tenang, melambai gemulai, indah dan bersiramkan wangian misik. Benar tidaknya... anda sendiri yang tahu...

Cinta memang sesuatu yang belum bisa saya mengerti, datang dengan tiba-tiba tanpa bersuara dan perginya pun secepat kilat tanpa kita ketahui... lenyap tanpa bekas, bahkan seringkali terganti dengan lawan dari cinta itu sendiri... yaitu benci.

Tapi muncul satu kekhawatiran yang sering dialami adalah jangan2 cinta itu hanyalah sekedar kedok dari "sesuatu" yang lain, sesuatu yang lebih laten dibandingkan dengan cinta itu sendiri.

Kalau sekedar untuk berdeklamasi, saya tentu akan menjawab dengan lantang, bahwa cintaku untuk Allah, untuk Rasulullah, para sahabat, orang tua, teman, dan seterusnya...dan seterusnya... demikian pula slogan-slogan yang ditempel atau dalam iklan misalnya... tidak mustahil bahwa semua ucapan, atau tingkah laku itu hanyalah kepalsuan belaka... ??!

Tetapi itu hanyalah sekedar slogan saja, yang untuk bisa membuktikannya perlu diuji lagi. Ibaratkan sebuah pedang... ia tidak langsung menjadi sebuah pedang yang tajam tanpa sebelumnya melalui sebuah proses yang tidak ringan. Sebuah proses dari sepotong besi biasa yang kemudian menjadi sebuah pedang yang bagus.

Tidak jarang untuk bisa merasakan cinta pada yang lain maka penyandaran dan berkedok dengan cinta pada Allah sering terlazimi. Tidak jarang dibalik kedok itu adalah karena lebih mencintai diri sendiri... mencintai ego yang ada.

Demi cinta kepada Allah... maka saya melakukan perintahnya...menjauhi larangannya... berusaha mengikuti Sunnah Rasul-Nya... berusaha dekat dan mengikuti kekasih2-Nya... dll. Tetapi ternyata itu hanyalah sebuah kedok bahwa saya jauh lebih besar mencintai diri sendiri.

Karena ego ini masih lebih mengutamakan nikmatnya materi, nikmatnya pujian, nikmatnya penghargaan, nikmatnya kehormatan, nikmatnya harga diri, nikmatnya pahala, nikmatnya berkelompok apalagi yang merasa paling benar, bahkan terobsesi dengan nikmatnya surga yang dijanjikan... dan disamping ego tersebut masih belum bisa menerima kepahitan-kepahitan. Baik itu jasmani maupun rohani. Saya masih melayang diantara hitam-putih, panas-dingin, baik-buruk, benar-salah, senang-susah, pujian-makian. Sesuatu yang sangat relatif tetapi punya tendensi ke arah tertentu.

Sampai suatu saat saya men-scan kembali perasaan saya mengenai cinta... ketika secara nggak sengaja saya dengar pembicaraan orang yang kira-kira begini: "Cinta akan lebih bisa terpahami jika tidak bersandar dengan "karena" tapi bersandar dengan "walaupun".

Anda nggak faham yach...? samma

Mau pake rumus...?,

Misalkan... Selama ini dengan kedok cinta, saya mencintai A "KARENA" c,d,e,f,g… (sesuatu yang sangat logis). Tapi masalahnya sekarang, kalau c,d,e,f,g-nya berkurang tidak mustahil cinta saya pada A bukan sekedar tereduksi lagi, akan tetapi mungkin akan habis dan tinggal kedoknya saja, karena ego saya yang menginginkan c,d,e,f,g-nya bukan karena A-nya itu.

Tetapi sebaliknya... Dengan berkedok cinta, saya mencintai A "WALAUPUN" v,w,x,y,z dst ..(mungkin terkadang nggak masuk akal). Akan tetapi, meskipun ada faktor v,w,x,y,z dst... tapi disini kita harapkan mudah2an cintanya semakin menyala dan kedoknya semakin menghilang.

Saya hanya sedikit teringat, suatu kisah seorang sufi yang mengatakan bahwa beliau 'mimpi seakan-akan berada di hadapan Allah' kemudian Allah berkata:

(dalam bahasa yang lebih sederhana) ........

Ketika AKU baru menciptakan manusia, mereka semua mengaku cinta kepada-KU.

Kemudian KU-ciptakan dunia, sebagian besar berpaling ke dunia lari meninggalkan-KU, hanya sedikit yang tetap mencintai-KU

Kemudian KU-ciptakan Surga, sebagian besar dari yang sedikit itu berpaling padanya, dan tinggal sedikit dari yang sedikit tetap mencintai-KU

Kemudian KU-ciptakan Neraka, sebagian besar dari yang sedikit dari yang sedikit tadi lari meninggalkan-KU karena takut padanya, maka tinggallah sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit tetap cintanya kepada-KU.

Pada yang sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit itu KU-timpakan ujian, Sebagian besar dari yang sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit itu tidak tahan dan mengeluh, hingga hanya tinggallah sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit dari yang sedikit tadi masih tetap cintanya kepada-KU.

Kepada yang tersisa itu AKU katakan... "Kalian tidak menginginkan dunia, tidak mengharapkan surga, tidak lari dari neraka, dan tidak mengeluh dari ujian, lalu apa yang kalian inginkan...?"

"Engkau lebih mengetahui apa yang kami inginkan, jawab mereka."

"AKU akan memberikan cobaan yang berat pada kalian, sebanyak napas kalian; bahkan gunung yang kokoh sekalipun tidak akan sanggup menanggungnya, apakah kalian akan tetap bersabar...?"

"Jika KAU yang menurunkan cobaan itu, kami siap menerimanya."

Kata Allah... "Kalian adalah hamba-hamba-KU yang sejati. Kalian adalah pecinta-KU yang sidiq. Aku akan beri kalian dunia dan surga. Aku akan menyingkirkan segala bencana dari kalian."

Mereka yang tersisa itu-lah hamba-KU.


Alhamdulillah... Allah Maha Pemurah, jika tidak karena ada cinta-Nya mustahil kita akan mampu bertahan dengan segala ujian dari-Nya.

"Saudaraku, jika kau mendoakan aku, doakanlah agar Allah menjadikan aku sebagai salah seorang kecintaan-Nya. Sebab, hanya karena cinta dan ridho-Nya lah maka kita bisa mencium bau syurga-Nya" (fathiyah)


kafemuslimah.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar